Aku.

play this before you read.


Jantungku berdegup kencang. 

Aku tak tahu apa sebabnya, apakah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan penuh atau takut tertangkap manusia itu. Tidak, dia bukan lagi seorang manusia. Dia seorang gila! Seorang monster! Seorang keji! Lama tak berjumpa, kehampaan membuatnya menjadi monster gila yang keji! Napasku kian memburu seiring langkah kaki yang melemah setelah lama menyusuri lorong-lorong panjang tanpa ujung. Cahaya enggan menampakkan diri. Hanya kegelapan yang sunyi dan sepi. Ketika kupikir telah menemukan jalan keluar, lorong ini berubah menjadi teka-teki yang sukar. Jalan-jalannya semakin kusut. Berlari sekuat tenaga tanpa henti hanya membuat letih dan ingin mati.

Tapi aku tak ingin mati! Setidaknya, tidak di sini. Aku harus keluar hidup-hidup dan menata berantakannya hidup menjadi rapih. Hidupku masih terlalu amburadul untuk mati di sini, di detik yang fana ini. Sekali pun, tak kuizinkan langkah kaki melambat atau bahkan berhenti. Pikiranku semakin kalut saat menimang-nimang untuk mengundur waktu kematian. 

Semakin tak terkira kekalutanku kala mendengar langkah kaki monster itu yang seperti sudah di dalam telinga. Penuh penekanan dan menyiratkan kekejaman tak terbatas. Tiap derap kakinya seakan meruntuhkan langit-langit yang bergemuruh. Percayalah, Zeus pasti cemburu! Dinding-dinding bergetar menguarkan aroma tak sedap. Kau tahu amis yang anyirnya menancap hidung hingga perih? Percayalah, amis kali ini lebih parah lagi.

Aku berbelok ke kanan, kemudian ke kiri, kemudian ke kanan lagi, yang meskipun ke kiri atau ke kanan sebenarnya sama saja, tak ada habisnya. Lorong ini terus melahirkan lorong-lorong baru setiap kali aku berbelok, tapi tujuanku bukan untuk mencapai ujung lorong. Melainkan, untuk--bagaimana caranya---menjauh sejauh mungkin dari makhluk sialan itu. Aku ingin sekali berhenti sejenak, sekadar mengatur napas atau membiarkan kaki beristirahat. Aku lelah berlari selama berjuta-juta detik. Tapi itu tak mungkin! Berhenti berarti mati. Mati berarti semua akan berakhir. 

Aku. 

Mimpiku. 

Hidupku. 

Kendati, hidupku tak seberharga dan seberuntung itu untuk dipertahankan lebih lama, salahkah aku bila sesekali berharap bisa mengecap bahagia? Sedikit atau banyak, salahkah itu Tuhanku Yang Maha Baik? Jika tidak, bisakah Kau mengabulkannya untukku? Berpuluh tahun aku hidup dalam kemalangan, jangan Kau jadikan matiku pun demikian. Haruskah kukidungkan segala macam pujapuji pada-Mu? Tapi bahkan semua itu sudah sering kulakukan sepanjang hidup. Hidup yang bagi sebagian besar lebih baik redup.

Fokusku semakin buyar, tenagaku melemah, pikiranku melalang buana. Kata orang, berlari membuat pikiran menjadi jernih dan segala yang ruwet terurai. Pun, beban hati perlahan pergi. Namun, mengapa semua jadi makin berat dan rumit? Apa lariku kurang jauh? Kurang lama? Kurang kencang? Seberapa jauh lagi aku harus berlari agar bisa hidup tenang? Aku menahan diri, bukan waktu yang tepat untuk bersedih hati.

Namun, ternyata aku rubuh juga. Sudah tak kuat untuk berlari, sudah terlalu lama pula aku berlari. Lorong-lorong ini pun semakin sulit dilewati. 

Lautan yang telah lama kering meledak begitu saja dengan deras. Sesak sekali rasanya. Sudah lama aku tidak mengizinkan diri untuk bermuram durja. Sebisa mungkin, kucoba untuk mengeringkan kristal-kristal sialan ini agar berhenti menghambur seperti anak kecil. Aku manusia dewasa, semua tahu aku sudah sangat dewasa. Itu artinya, seorang dewasa sepertiku harus bisa mengontrol perasaan bodoh yang memubadzirkan buih-buih lautan dalam diriku imi. Tapi lagi-lagi kenapa tak bisa? Dalam lautan yang terus meledakkan buih-buih kristal, aku tenggelam. Isakan menggema di seluruh ruangan. 

Aku merasakan asinnya air laut yang begitu menusuk. Rasa-rasanya, lebih lezat daripada darah segar yang mengalir dari bekas sayatan manusia-manusia lemah di sekujur tubuh mereka yang renta.

Kupikir, yang keluar memanglah ledakan darah, sebab mustahil jiwaku masih mampu menampung luasnya lautan setelah lama tak kusinggahi. Selama ini, aku selalu merasa tak ada gunanya berenang-renang dalam duka. Sekadar mengutuk hidup memang sudah sering, tapi tak kupandang sebagai sebuah kemalangan yang patut diratapi tiap kedip. Aku menarik napas dalam. Haruskah aku menyerah sekarang? Langkah kaki monster itu seperti tinggal beberapa meter saja jaraknya. Beberapa menit lagi dan dia akan mengantarku menuju lembah siksa yang abadi. Sebuah mati yang pedih.

Tepat saat aku ingin menyerah, sesuatu berderit nyaring dan aku pun terlonjak kaget.

Apa itu? Pintu? Entah bagaimana, sebuah pintu berwarna kelam berderit membuka di hadapanku. Ragu, aku berdiri dan tertatih-tatih berjalan menuju pintu setinggi angkasa itu. Celah yang terbuka hanya menyisakan ruang yang teramat sempit untuk dilewati. 

"Mungkinkah ini jalan keluarnya?" Aku memandang sangsi pada celah yang seolah memanggilku untuk masuk. "Mungkin saja memang begitu." Kalaupun bukan, sekiranya di balik pintu ini aku aman dari cengkraman si monster.

Aku mencari-cari gagang pintu. Namun, pintu ini hanya berupa sebongkah besi besar kasar nan datar tanpa gagang. Satu-satunya cara membukanya adalah dengan mendorong permukaannya--yang ternyata tidak mudah. 

Mendorong pintu ini laksana Atlas menopang langit bumi. Sungguh, berat sekali. Kupusatkan sisa-sisa tenaga yang masih ada dan sedikit demi sedikit celah pintu mulai melebar, tapi tak cukup lebar untuk dilewati tubuh kerempeng nir giziku. Tekstur kasar pintu menusuk telapak tanganku yang berciuman langsung dengan permukaannya. Sedang keringat masih saja menetes, aku memejamkan mata dan mengatup bibir--berusaha tidak mengerang dan memuntahkan seluruh isi perut sekarang juga.

Sedikit lagi. Aku hanya perlu membuka celahnya beberapa senti saja. Tuhan telah memberi jalan. Kini, giliranku untuk menyusuri jalan itu tanpa boleh menyerah. Sedikit dorongan saja dan akhirnya--setelah tenagaku benar-benar terkuras habis--celah pintu ini cukup menyisakan ruang untuk dilewati. Demikianlah, aku langsung merangsek masuk dan pintu itu tertutup dengan sendirinya. 

Sunyi segera menyergap. Langkah kaki sang monster pun seketika lenyap. Hanya deru napas tersenggal-senggalku yang tertangkap indra pendengar.

Kegelapan benar-benar sempurna di sini. Kelam, suram, muram, semua menyatu. Sejauh apapun mata memandang, tiada sesuatu terlihat. Tiadapun tembok, tiadapun lorong-lorong tak berujung, tiadapun ujung itu sendiri. Suasana yang menenangkan, hingga aku pun jatuh terlelap.


[]

play this before you continue.

Aku terbangun ketika samar-samar mendengar seseorang memanggil.

Aku tak tahu pasti sudah berapa lama tertidur di ubin yang terasa begitu dingin hingga menikam sendi-sendi. Tidurku tak begitu nyenyak, aku memimpikan hal serupa dengan apa yang kualami sekarang. 

Dikejar-kejar monster dalam ruang tanpa ujung. 

Mimpi itu terasa sangat nyata hingga sulit untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bunga tidur belaka. 

Selagi mengumpulkan kesadaran, suara itu kembali terdengar. Suara wanita muda yang memanggil namaku dengan bisik merdu. Aku mengedarkan pandang ke sana kemari--yang tentu saja sia-sia karena gelapnya ruang ini ..., tapi tidak. Tepat di hadapanku, dalam jarak yang sedikit jauh, ada setitik cahaya berpenjar. Warnanya putih kemerahan. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk meyakinkan diri bahwa yang kulihat adalah nyata. 

"Kemarilah sayang, kemarilah. Mendekatlah dan kan kudekap kau dengan bahagia."

Suara itu terdengar lagi, begitu melenakan siapa saja yang mendengarnya. Tak dapat dibantah, suaranya berasal dari cahaya itu. Ketika diperhatikan dengan saksama, pendar cahaya tersebut akan melemah tatkala kicau lembut yang memanggilku terdengar. Kemudian berpenjar terang ketika tak ada suara, saat itulah hening berkuasa. 

Aku sedikit ragu untuk mendekati asal cahaya dan suara itu. Rasa-rasanya seperti akan menyongsong bahaya atau bahkan maut. Bagaimana jika sepaket cahaya dan suara itu hanya akal-akalan sang monster agar aku masuk ke dalam perangkapnya? Tidak, aku tidak akan tertipu. Kata ibu, aku adalah orang yang sulit ditipu. Meski beberapa kali perkataan itu bernilai salah. Bahkan ibu pun tak mengenal aku. Tapi, apa aku bahkan mengenal ibu? Kehidupan ibu sebelum bertemu aku. Apa kiranya ibu adalah malaikat yang sama sebelum menjadi seorang ibu? Bagaimana bisa dua insan yang telah hidup bertahun-tahun ini saling tak tahu menahu tentang masing-masing "aku"? Lantas, ayah pun tertawa dalam kepalaku. Katanya, "aku bahkan tak mengenali anakku sebaik istriku." Dan adikku menyahut, "kakak bahkan tak mengenal aku sebaik aku mengenalimu." 

Jadilah kami satu keluarga yang saling adu ketidaktahuan satu sama lain, kendati tlah menghabiskan waktu beribu tahun. Kepalaku semakin berisik dengan suara-suara yang tak kukenali lagi. Apakah itu suara ibu? Ayah? Atau adik kecilku yang sudah tak kecil lagi itu? Suara siapa yang menggema di seluruh ruang pikirku? Kepalaku terlalu berisik di ruang setenang ini. 

Suara-suara lain mulai bermunculan. Masing-masing menyuarakan hal-hal yang tak kuketahui. Sedangkan yang lain mengatakan hal-hal itu tak ingin kuketahui. Aku menutup telinga, tapi bagaimana caranya menutup telinga dalam kepala? 

Tuhan, kepalaku seperti akan meletus. Aku sudah tak ingi mendengar suara siapapun di bumi, bahkan suaraku yang tak pernah terdengar ini. Tuhan, izinkan aku menjadi manusia yang hening. Hening dan tak dikenali. Hening dan dilupai. Hening dan tak hidup lagi.

Aku menjambak rambut sekuat tenaga, mencoba mencengkram keluar suara-suara yang teramat bising. Beberapa rambut mungkin sudah tercabut dari akarnya. Aku tak peduli. Apapun kulakukan asal bisik yang bising kembali hening, tapi tak ada yang berubah. Beragam suara dengan jenis, nada, dan bahasa yang berbeda malah semakin melimpah. Runyam sudah seorang aku. Cengkramanku pada helai-helai rambut semakin tak terkira kuatnya. Buih-buih laut meledak sekali lagi. Aku berteriak sekencang gelegar petir. Sebisanya meredam suara-suara itu dengan suaraku sendiri. 

"Sayangku, menyiksa diri sendiri tidaklah baik. Kemarilah, dan kan kudekap kau dengan damai."

Suara lembut itu kembali lagi. Anehnya, berhasil membisukan segenap keributan dalam kepalaku. Keheningan yang ganjal, tapi menenangkan menyusuri relung ragaku. Aku terdiam, membisu. Meski napas masih memburu. Setidaknya, aku sudah tak mendengar arus lautan bergemerisik dalam kepalaku. 

Lekat-lekat, aku menatap cahaya yang terus memanggilku dengan suaranya yang lembut, betapa lembut hingga hampir membuatku tidur lagi untuk yang kedua kali.

Ada sesuatu yang aneh dalam suara itu. Agak-agaknya terasa familiar dan begitu dekat. Namun, ada kesan asing yang mengganjal. Selama beberapa waktu, aku hanya duduk diam memandangi cahaya itu. Napasku sudah tak memburu lagi, demikian sisa-sisa kristal pada laut yang mengamuk telah kering. Sepanjang diamku, suara dari cahaya yang kupandangi tak pula memanggilku. Seolah memberiku sedikit ruang untuk menenangkan diri. 

Aku tak tahu pasti apa yang membuatku bangkit dari duduk yang lama. Aku hanya ingin ... berdiri, meski tak tahu harus ke mana ... meski tak tahu harus berbuat apa ... meski tak ada rencana setelahnya ... meski aku tahu akan duduk lagi untuk waktu yang lama ... atau mungkin selamanya ... atau mungkin tak begitu lama ... sebab setelahnya "waktu" tak akan ada.

Aku berharap suara lembut itu kembali memanggilku. Setidaknya, agar aku tahu apa yang kuinginkan. 

Tidak, lebih tepatnya memberiku validasi atas keinginanku untuk mendatanginya. Sayangnya, tak terdengar apapun selain bunyi napas dan atau detak jantungku yang melambat. 

Sedetik dua detik, pada detik-detik berikutnya yang sunyi, cahaya berpenjar semakin terang. Suara perempuan itu kembali mengalun. Ia menyanyikan sebuah lagu yang tak asing bagiku.

bila kau dirundung duka, panggilah aku.
bila kau bersuka, ajaklah aku.
bila kau terluka, peluklah aku.
bila kau riang, ingatlah aku.
sebab, aku selalu ada di dalammu.
bersamamu, memeluk dirimu.
aku adalah kau dan kau adalah aku.
dalam waktu yang fana, hanyalah aku seorang yang mencintaimu.
... melindungimu.
... mengasihimu.
kau tak pernah sendiri dan jatuhkan pandang pada jiwamu yang dalam dan malang
lihatlah dengan hati yang bersih
dengan cinta dan kasih
aku tak ada di permukaan
aku ada pada lembah yang teramat dalam
yang hanya bisa kautembus dengan perenungan

kemudian, sayangku, kuucapkan selamat datang
di suatu waktu yang tak kauketahui, di sinilah kau berdiri
bertemu dirimu sendiri
yang murni
lagi suci


Aku ingat sekarang. Lagu itu terus berputar dalam mimpiku setiap kali aku ingin benar-benar tertidur. Dan suara itu pulalah yang seringkali kudengar dalam mimpi-mimpiku yang terasa abadi. Aku membuka bibirku yang kering, ikut melantunkan tiap ayat pada lagu dengan khidmat. Sambil terseok-seok, aku mendatangkan diri menuju arah cahaya yang semakin jelas bentuknya.

Seorang perempuan muda setinggi aku, 
raganya tak ayal cerminanku
dan bentang jiwa sesempit aku.

Ia membuka tangannya dengan senyum penuh kasih.

Semakin aku dekat, ia terasa begitu hangat. 

Dan dalam pelukannya, aku percaya akan hidup kekal.

Dengan damai dan bahagia, selamat tinggal.






Pertama kali ditulis pada 23 November 2024
Diselesaikan terakhir kali pada 21 September 2025

Oleh:
--------  Elsa Wear.




___________

Sumber gambar pertama: 
https://pin.it/5R9tTOSjs


Sumber gambar kedua:
https://pin.it/4hdf6NL9e










Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.