tu'burni

Maut, maut, maut 

yang tak pernah tidur

izinkan aku bergelung dalam jubah kebesaranmu

dalam gelap yang diam

merangkulmu dengan khidmat dan damai


Maut, maut, maut

yang tak sudi menunggu

Bila akhirnya kau izinkan bayangku ditelan duka

Jangan sekali kali kau menjamah jiwa lain selain aku

Kuberikan kau seorang aku

Dan aku izinkan kau melahapku

Lantas, apalagi yang kau butuh?


Maut, maut, maut 

Bisakah kau jawab apakah hidup itu?

Apakah hidup ialah hidup bila aku kehilangan keluargaku?

Apakah hidup terasa utuh bila keluargaku kehilangan aku?


Dan beritahu aku maut yang Maha Lembut.

Bila kehilangan ialah bagian dari hidup, 

lebih baik mana di antara meneruskan tiap-tiap garisnya yang entah ke mana ia berujung

atau memotongnya saja dengan pisau tumpul?

sungguh, tiada siapapun yang sanggup ditinggalkan maupun meninggalkan yang hidup, wahai maut.

--- Barangkali kau harus hidup dulu 

agar tahu rasanya dicumbu ketakutan abadi akan kehilangan yang hidup, daripada tak hidup.

tapi toh kehilangan yang hidup pun berarti kita sudah tak lagi hidup.

barangkali kau hanya tahu dan tak memahami.

seperti kebanyakan manusia di bumi saat menjelaskan omong kosong empati.


Oleh karena itu maut yang baik hati ...,

dan juga lembut ...,

kau tak harus hidup untuk menebus rasa bersalahmu padaku

pada detik yang berjatuhan dari umur-umur orang mati

kuizinkan kau menjamah jiwaku dengan cinta atau kebrutalan tak berkasih

mendekap sayang atau membakarnya dalam api abadi

tapi sungguh, jangan ada siapapun selain aku

biarkan ayah, ibu, dan adik kecilku tetap hidup

dalam setiap mujur

-- dengan cinta yang tak terkubur

-- dan doa yang terus tumbuh.





 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.