Postingan

tu'burni

Maut, maut, maut  yang tak pernah tidur izinkan aku bergelung dalam jubah kebesaranmu dalam gelap yang diam merangkulmu dengan khidmat dan damai Maut, maut, maut yang tak sudi menunggu Bila akhirnya kau izinkan bayangku ditelan duka Jangan sekali kali kau menjamah jiwa lain selain aku Kuberikan kau seorang aku Dan aku izinkan kau melahapku Lantas, apalagi yang kau butuh? Maut, maut, maut  Bisakah kau jawab apakah hidup itu? Apakah hidup ialah hidup bila aku kehilangan keluargaku? Apakah hidup terasa utuh bila keluargaku kehilangan aku? Dan beritahu aku maut yang Maha Lembut. Bila kehilangan ialah bagian dari hidup,  lebih baik mana di antara meneruskan tiap-tiap garisnya yang entah ke mana ia berujung atau memotongnya saja dengan pisau tumpul? sungguh, tiada siapapun yang sanggup ditinggalkan maupun meninggalkan yang hidup, wahai maut. --- Barangkali kau harus hidup dulu  agar tahu rasanya dicumbu ketakutan abadi akan kehilangan yang hidup, daripada tak hidup. tapi t...

Aku.

Gambar
Jantungku berdegup kencang.  Aku tak tahu apa sebabnya, apakah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan penuh atau takut tertangkap manusia itu. Tidak, dia bukan lagi seorang manusia. Dia seorang gila! Seorang monster! Seorang keji! Lama tak berjumpa, kehampaan membuatnya menjadi monster gila yang keji! Napasku kian memburu seiring langkah kaki yang melemah setelah lama menyusuri lorong-lorong panjang tanpa ujung. Cahaya enggan menampakkan diri. Hanya kegelapan yang sunyi dan sepi. Ketika kupikir telah menemukan jalan keluar, lorong ini berubah menjadi teka-teki yang sukar. Jalan-jalannya semakin kusut. Berlari sekuat tenaga tanpa henti hanya membuat letih dan ingin mati. Tapi aku tak ingin mati! Setidaknya, tidak di sini. Aku harus keluar hidup-hidup dan menata berantakannya hidup menjadi rapih. Hidupku masih terlalu amburadul untuk mati di sini, di detik yang fana ini. Sekali pun, tak kuizinkan langkah kaki melambat atau bahkan berhenti. Pikiranku semakin kalut saat menimang-...

Ke Mana Ide Pergi Berkelana?

Gambar
aku           mengejar                                  ide       (tak)mengejar aku        pun bisu        lesu sayu betapa ide menyakiti aku mencabik-cabik dagingku menyayat igaku aduh, bung hati      hati            dengan hatiku! yang pilu         yang masygul                 yang malu-malu dan ketika merpati memberaki aku                   ide tak kunjung bertamu haruskah kuberaki saja merpati itu?   ...

Hidup Tak Melulu Sayu dan Waktu Tak Cukup

Gambar
pada bunga-bunga yang mekar hari ini sembunyikanlah yang layu serapat mungkin ---- agar mekar tak sayu ---- dan layu tak sendu mungkin hidup tak selalu tentang sayu dan sendu tapi tak seorang pun lepas dari jerat pilu dan kapan terakhir kali kaumerenung? akan hidup yang kian ambigu pantaskah seorang fana merenung? di atas gunung atau di bawah awan mendung pantaskah seorang fana linglung? atas segala yang membuat bingung hidup --- umur waktu --- dan aku yang  hidupnya selalu bingung yang  umurnya dihabiskan tak becus yang  waktunya tak penah cukup yang --- yang  ------ yang  -------- yang ujung-ujungnya menyalahkan  -----hidup ----umur dan aku yang terbatasi  ------ waktu .

Turut Berduka Cita!

Gambar
dan di sinilah kita menggaungkan 'turut berduka cita' cita-cita pun turut berduka cita               cita                         negara                                         kita                         alinea             ke-4 dan          --- pancasila sila-sila pun tak luput dari duka dikubur para gelojo atau dirudapaksa par setan falsafah negara di negeri penguasa pancasila                   hanyalah                                      ornamen                        ...

Ke Mana Hilangnya Mimpi?

Gambar
"Jadi, bagaimana? Sudah kautemukan mimpimu?" kau bertanya. Semalam, aku baru saja kehilangan mimpi. Bangun dari tidur yang masyhur, aku linglung. Diriku, juga mimpiku. Kemudian, kuceritakan kehilangan itu padamu saat mentari mengambil alih tahtanya di langit bumi. Kaupun tercengang, entah benar atau sekadar pura-pura, aku senang. Itu tanda bahwa kaupeduli, entah benar atau sekadar tipu daya, aku tidak peduli. "Belum. Mungkinkah ia sembunyi?" Aku menatap lurus pada kilau matamu yang anggun, mencoba mencari jawaban. Bahkan kau yang selalu tahu pun, tak tahu. Jadilah sekarang kau malu, malu karena tak tahu. Aku tahu betapa bencinya kau bila merasa tak tahu apapun, tapi toh bukan salahmu. Akibat ketidaktahuanmu itu, kau pun diam saja. Sedetik. Sedetik seperlima. Sedetik seperempat. Sedetik sepertiga. Detik-detik yang lebih lambat dari detik manapun di dunia. Hingga akhirnya, suaramu mengalun merdu bersama kicau burung yang murung. "Sudah kaucari pada bekas-bekas y...

Sebuah Jika

Gambar
jika maut berkunjung gempita pun merenung semua membisu maka ke mana lagi kau hendak kabur? jika maut tinggal sedetik waktu pun tak berkutik kita menukik ruang-ruang menjadi sempit maka ke mana lagi kau kan sembunyi? jika jika jika jika waktunya tlah tiba semua "jika" tak ada artinya "jika" tak lagi menjadi jika sebab, detik mengejar "jika" menit berniat membunuhnya jam-jam kelaparan; tak sabar menyantap tubuh sebuah jika tapi kali ini "jika" tak jadi indah maut menciptakan jejak-jejak lara "jika" pun pupus kala maut menjemput sebab apapun tak luput dari maut bahkan jika itu sebuah "jika" jika jika jika jika saja aku berani menantang maut _______ Elsa Wear

Kata Ibu, Aku Bukan Penguasa Waktu

Gambar
Aku bukanlah penguasa waktu Maka dengarlah irama waktu Tik Tok atau Tuk Tuk Penguasa waktu bukanlah aku Detik-detik bebas melaju Dengan haus mencumbu hidup Dan aku tumbuh dibesarkan waktu Hijau Biru Membentang sayu Merekah slalu Hingga puspa merajuk Bangunan tua makin berlumut Kumis ayah tak ubahnya sebuah janggut Kelam rambut ibu menjelma galuh Kata ibu, waktu tak menentu Kata ayah, setiap jiwa punya waktu Sedang katamu, waktu tlah direnggut --- entah sejak kapan kau membeku Dan dalam tanah berbatu Tubuhmu mulai melarut Menari 'tuk menyusut Dimakan cacing-cacing gendut Dut dut dut Waktu melaju merdu Meniadakan aku Meniadakan kau Setiap ada 'kan tiada Tapi, jiwamu mujarad Namamu mujarab Dalam siksa ia kekal Ah, semoga saja aku tak lupa Mungkin memang tak lupa Mungkin juga lupa Lupa tak lupa aku bisa apa? Sebab, aku bukan penguasa waktu Bukanlah waktu di lajur manapun Hingga asa terkubur Semua aku terbujur -----wangi dan kaku Waktu meniadakan yang hidup Kata ibu, kita bukanlah p...

Jiwa Lusuh yang Malang

Gambar
di tengah ahmar sebuah kelam mengudaralah kemasyhuran bumi istana sedang kelopak bergelut mengatup sulit; hingga ia pun pecah meluruh dan ketika dikau menyelami alam pikiran seorang perawan beradu dalam kesendirian memalun kesunyian linglung dan hilang ah... sungguh pun hidup ia tak pernah benar-benar hidup tiada pun dalam jasad renta berkerut sebab rupa telah direnggut pikiran kian mengusut bila rembulan tlah tiba sempurna jiwa rapuh berenjana berdoalah tangis adam dan hawa di ujung dunia, setan tertawa ah, jiwa yang hilang ah, jiwa yang rapuh angan-angan disapu mimpi-mimpi dirayu sebuah sayu kuyu layu maka terbitlah isak sang fajar di sanalah rembulan memudar embun pun sukar disua sebab dusta telah dicarak siapa? kau menyapa di tengah hamparan sawah kepada langit yang memerah mengapa? seorang mati melangkah asap tubuhnya menghanguskan ia bersabda; bumi pun ditinggalkan hilang sebuah jiwa yang hilang tersesat bersama kerapuhan ternoda oleh kesengsaraan oh, jiwa yang malang inilah bint...

π‘·π’‚π’Œπ’†π’• π‘―π’‚π’“π’Š 𝑺𝒂𝒃𝒕𝒖.

Gambar
Tuanku yang tutur katanya selalu santun dan rona pipinya selaras lembayung. Di terang yang sebentar lagi meredup, kuucapkan selamat hari sabtu. Semoga bunga-bungamu selalu layu dan harimu tak lagi pilu. Semoga (pula) suratku benar-benar sampai ke halaman rumahmu sebelum kopi pekat itu selesai kauseduh. Setelah surat ini kaubaca, mungkin kau tak lagi dapat melihatku. Dan kalau-kalau nanti kau tak melihatku, barangkali bumi telah menyesap tubuhku dengan rakus. Kalau-kalau nanti kau tak kunjung menjumpaiku, barangkali langit telah meminangku dengan lembut. Kalau-kalau nanti kau tak lagi mendengar suaraku, barangkali Hermes yang licik telah mencurinya sewaktu aku tidur. Kalau-kalau nanti ...  ah, kemungkinan ini sepertinya tidak mungkin. Kali ini memang tidak mungkin. Sedari dulu, takkan pernah ada ruang di lorong-lorong gelap hatimu yang tersisa untuk memadu rindu. Lebih-lebih jika itu terhadapku.  Jadi ... bagaimana kabar tubuhmu, Tuan? Mungkinkah ia menyusut dan renta kerana t...

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Gambar
Pukul dua tadi adalah pertemuan terakhir kami. Di sebuah ruang dan waktu yang tak dapat terdefinisi. Kupikir, seharusnya ini benar-benar telah berakhir. Tapi, dua tahun lalu pada pukul dua di ruang berbeda, aku juga mengatakan hal serupa. Bahwa semua telah mencapai sebuah nestapa. Namun, semua belum berakhir. Tidak tahu untuk saat ini. Tumpukkan kertas memang telah usang dan berdebu, tapi tak kunjung dibiarkan membusuk. Kertas-kertas bergambar. Kertas-kertas berhuruf. Semuanya menari-nari dalam irama yang lucu. Seolah mengejek, "mengapa kami belum juga kaubuang?" Aku menutup mata, meskipun telah lama ia tak melihat. Dan kututup pula telinga, meskipun telah lama ia tak mendengar. Aku seorang buta yang tuli, tapi tak bisu. Meskipun, di banyak waktu seringkali aku membisu. Sekarang pukul setengah tiga. Tiga puluh menit setelah aku dan lelaki berambut sebahu itu memutuskan menaiki dua sembrani hitam milik ibu. "Aku sudah punya kebun bungaku sendiri. Lahir dari tangan seorang...