Pertemuan dan Perpisahan

"
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Biar jauh di negeri satu
Hilang di mata di hati jangan
Sumber pantun: Wikipedia

Teman-teman kelas XII MIPA 5 angkatan 2020
Pertemuan dan perpisahan. Kedua kata yang kayaknya nggak bisa dipisahin satu sama lainnya. Memiliki keterikatan yang erat, seakan keduanya memang benar-benar sudah ditakdirkan bersama oleh semesta.
Benar, ya, kata pepatah klasik yang sering kita dengar, baca atau mungkin yang pada saat ini sedang kita rasakan.
Setiap kali ada pertemuan, cepat atau lambat, hari ini atau esok, siap atau nggak siap, mau atau nggak mau, percaya atau nggak percaya pada akhirnya perpisahan juga yang akan menjadikan semua temu, kisah, waktu juga kebersamaan kita menjadi angan dan kenangan.
Tiga tahun sudah masa-masa di SMA telah kita lewati. Masa-masa yang katanya paling indah di antara semua jenjang sekolah. Semua hal bisa kita rasakan di sini. Entah itu persahabatan, percintaan, ketegangan, keseruan, suka dan duka, hitam dan putih, canda dan tawa, riuh dan tangis dan apapun itu semua tertulis menjadi satu kesatuan kenangan yang kalau diingat-ingat lagi akan menghadirkan rindu yang menghujam.
Sebenarnya yang sulit itu bukan perpisahan, tapi kenangan yang masih ada. Aku setuju dengan pepatah inggris kuno itu. Walau perpisahan telah berakhir lama, bahkan berpuluh-puluh tahun telah terlewati, tapi selagi kenangan masih ada akan sulit juga untuk melupakan. Selagi kenangan masih ada, sulit untuk menghilangkan rindu.
Berbicara tentang perpisahan. Boleh nggak aku mengatakan kalau perpisahan angkatan tahun ini sedikit ... menyedihkan?
Berpisah sebelum waktu yang ditentukan.
Angkatan tahun ini agaknya berbeda dengan angkatan tahun sebelumnya. Kalau angkatan tahun sebelumnya berpisah pada waktu yang telah ditentukan, kita sudah duluan terpisah oleh jarak karena pandemi yang menyerang.
Kalau angkatan tahun sebelumnya pada akhir kisah mereka ketika berpisah masih dipertemukan. Berbeda dengan angkatan tahun ini yang sama sekali nggak diizinkan semesta untuk bertemu secara langsung, mengucapkan salam perpisahan, membentuk akhir kisah dengan sebuah tangis dan tawa juga kebersamaan untuk terakhir kalinya dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Kalau angkatan tahun kemarin masih bisa bersalaman, saling berpelukan, saling mencium pipi kanan dan kiri dengan para guru, kawan dan sahabat. Lagi dan lagi, berbeda dengan angkatan tahun ini yang bahkan untuk melakukan pertemuan dengan orang banyak saja sulit dan untuk beberapa daerah sudah dilarang karena peraturan PSBB yang diberlakukan oleh pemerintah.
Kita di rumah aja, ya. Walau perpisahan kali ini berkali-kali lipat rasa sedihnya, tapi semua itu demi kita juga. Kita nggak mungkin, kan, saling berjumpa di tengah pandemi yang telah memakan banyak korban jiwa seperti ini.
Kita nggak mau, kan, menjadi korban selanjutnya hanya karena ingin merayakan
hari kelulusan atau perpisahan dengan menghadirkan orang banyak yang bisa jadi akan
memicu kita ikut terinfeksi jikalau salah satu diantara mereka sudah terinfeksi, tapi tidak menyadarinya.
Aku yakin kita semua nggak mau menjadi selanjutnya atau salah satunya, entah itu korban positif terinfeksi atau bahkan menjadi korban jiwanya.
Semoga saja perpisahan ini bukan akhir dari segala jumpa juga kisah yang telah kita alami bersama. Semoga saja, semesta masih mengizinkan kita untuk berjumpa lagi dilain waktu. Kapan pun itu. Di mana pun itu.
Dan juga, semoga saja pandemi ini segera berakhir masanya atas izin dan kehendak Allah S. W. T agar kita bisa beraktifitas sebagaimana mestinya seperti sediakala ketika pandemi ini belum berwisata mengelilingi seluruh negeri.
Semangat ya, dalam meraih cita-cita dan impian yang telah kita rangkai sejak dulu.
In syaa Allah kita akan berjumpa lagi ketika kita semua sudah menjadi orang sukses yang berguna bagi nusa, bangsa maupun agama.
Aamiin.
Terima kasih untuk semua kisah klasik penuh segala rasa yang telah kita tulis bersama dalam sebuah kenangan yang abadi.
Terima kasih untuk segalanya.
Selamat Hari Pendidikan.
Selamat Hari Kelulusan (Online).
Tertanda,
Elsa Amalia Wear
Tual, 2 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar