Jangan Jalan di Tempat
Jawabannya akan tetap sama seperti detik ini kalau tuan hanya berjalan di tempat. Sama dan akan selalu sama. Kecuali, jika tuan melangkah minimal selangkah lebih maju dari detik ini, mungkin jawabannya akan sedikit berbeda.
Tuan, lebih baik maju walau selangkah, dibanding jalan di tempat dengan modal angan-angan panjang yang tak berkesudahan.
Tuan harus seimbang, kalau sudah berdoa dan bertawakkal, usaha juga harus tetap dilaksanakan begitupun sebaliknya. Bukan hanya mengandalkan satu kemudian meninggalkan yang lainnya.
Tuan, kapan langkah tegak maju jalan kau lakukan? Langkah santai pun tak mengapa, asalkan kau sudah berusaha melangkah, entah selangkah atau dua langkah itu juga sebuah usaha. Apa tuan tidak ingin melihat perubahan? Apa tuan tidak ingin memperoleh jawaban yang berbeda? Apa tuan ingin semua akan tetap sama?
Atau tuan sudah putus asa padahal tuan sama sekali belum berusaha?
Tuan, ini bukan tentang bagaimana santainya tuan ketika memancing dan menunggu umpan termakan ikan, sama sekali bukan.
Tapi, ini tentang bagaimana tuan bisa mendapatkan ikan itu dengan usaha. Usaha mendapatkan alat pancing, usaha mendapatkan umpan, usaha tuan dari rumah pergi ke laut atau empang, usaha tuan dalam bersabar, berdoa dan bertawakkal. Semua usaha itu adalah kombinasi yang saling berkaitan, saling terikat, saling mempengaruhi satu sama lain.
Semua itu saling terkoneksi, bila tuan hanya memilih satu usaha, katakanlah tuan hanya berdoa dan bertawakkal akan ada ikan dalam jumlah banyak yang datang, tapi tuan terlalu malas untuk berusaha entah itu berusaha mendapatkan alat pancing atau pergi ke tempat tujuan dan tuan hanya bermalas-malasan memikirkan,
"Bagaimana, ya, caranya agar saya bisa mendapatkan ikan?"
"Wah, enak, ya, kalau hari ini makan ikan."
"Seandainya ada banyak ikan, saya pengen makan ikan."
"Duh, semoga hari ini bisa makan ikan."
"Tuhan, saya ingin makan ikan. Tuhan pasti memberi saya ikan, saya berharap dan menyerahkan semua pada Tuhan."
"Kalau umpannya cacing gede pasti dapat banyak ikan. Di bagian kanan, biasanya paling banyak ikan."
Dan lain sebagainya.
Tuan hanya mengandalkan rencana tanpa ingin mengaplikasikan apa yang tuan rencanakan, juga tuan hanya memodalkan angan-angan panjang, semu nan kosong, tanpa mau bangkit dan berusaha bagaimana mendapatkan ikan itu.
Sampai selamanya kalau pemikiran tuan seperti ini tuan hanya akan terus, terus dan terus berjalan di tempat. Percayalah, tidak akan ada perubahan, tidak akan ada perbedaan, tidak akan terwujud jawaban yang tuan ekspetasikan, detik-detik berbeda yang akan menghadirkan jawaban yang sama.
Tuan, kau tidak bisa hanya mengandalkan dan melakukan sesuatu yang pasif, tapi enggan untuk melakukan bagian aktifnya.
Tidak bisa seperti itu.
Siapa yang mengajarimu tuan? Kemalasanmu? Angan-anganmu? Tolong sadarlah, tuan!
Ingat, tuan, yang tepat itu berserah bukan menyerah. Berserah, tapi dibalut usaha dan doa. Bukan menyerah, mengandalkan doa dan meninggalkan usaha.
Note:
Tulisan ini sebenarnya saya dedikasikan untuk seorang Tuan yang menganggap usaha itu hanya berupa doa, usaha pasif dan hanya mengandalkannya tanpa adanya usaha aktif (bekerja keras).
Menurut saya pemikiran tuan keliru, ah, atau mungkin saya yang keliru? Entahlah, saya hanya ingin menuliskan ini, menulis sesuatu yang mengganjal di hati saya agar ia menguap bersama huruf-huruf yang terlahir dalam tulisan ini.
Entah tuan membacanya atau tidak, entah saya benar atau salah, setidaknya saya merasa lebih baik sekarang.
Tertanda,
Elsa Amalia Wear
Tual, 24 September 2020

Komentar
Posting Komentar