Sebuah Puisi Tentang Corona

Corona
Manusia kian merana
Hewan tak lagi terkekang
Bumi leluasa; hirup kebebasan

Salah siapakah?
Siapa korbannya?
Korban siksa pun derita?
Derita karantina; rasakan!

Bumi tak lagi rusak
Segar mengawang bebas
Hewan tak lagi terkarantina
Bebas keluar menjelajah ruang manusia

Kurangkah sadarmu?
Tuhan sedang mengabulkan doa
Si bumi yang tak sanggup tertimbun berjuta dosa
Si bumi yang tak tahan disiksa ego; kerakusan

Corona
Bukan sebuah duka cita
Kehadirannya sebagai balasan
Akan keberingasan manusia; semena-mena

Hei tuan
Kuharap dikau paham
Tuhan ingin mengatakan
Bahwa ini adalah sebuah peringatan

Hei puan
Jangan dikau ambil kesimpulan
Ini adalah siksaan dari Tuhan
Siapa yang menyiksa duluan?

Hei tuan dan puan
Petiklah sebuah hikmah
Bukan merenung kesedihan
Kala Tuhan memusnahkan corona
Jagalah bumi, sayangi hewan!
Jika tak ingin kembali terulang!

Tak dengarkah kau, jika Tuhan pernah berkata,
"Ku-tundukkan semesta kepada manusia, bukan berarti kau bisa semena-mena!"

_______

Tertanda,

Elsa Amalia Wear




Tual, 24 Oktober 2020

_______

Saya tidak tahu apakah tulisan saya ini bisa dikategorikan sebagai puisi atau tidak, hahaha. Soalnya, kalau menurut saya pribadi, tulisan (yang saya anggap sebagai puisi) ini sama sekali tidak memiliki nilai estetik dan bla bla bla nya. Pun, saya bingung memilih judul yang pas untuk tulisan ini, huffffttt.

Walau begitu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan di dalamnya. Semoga, siapapun kalian yang membacanya, bisa mengerti dan memahami maksud yang ingin saya sampaikan, ya. Kalau tidak, ya sudah, biar saya dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Hahaha.(GAJE)

Dahlah sekian.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.