Karena Setidaknya Butuh Dua Orang untuk Saling Melengkapi
Setidak-tidaknya
Butuh dua orang untuk merindu
Butuh dua orang untuk saling temu
Butuh dua orang untuk saling mencintai
Butuh dua orang pula untuk mematahkan hati
Yang sendiri itu kamu
Di sudut kamar memilih aus meringkuk
Sedang, ada dia di semarak kota yang menunggu
Kedinginan ingin dipeluk
Memeluk diri sendiri itu tidaklah seru
Karena;
untuk menghangatkan cinta yang mengelabu
Setidak-tidaknya
Butuh dua orang untuk saling peluk
Tertanda,
Elsa Amalia Wear
____
Sabtu, 3 Juli 2021 : 09.06
______
Nb:
Tulisan di atas itu sebenarnya terinspirasi dari Drama Korea - Love Alarm. Lebih tepatnya, saya terinspirasi dari apa yang dikatakan Hye Yeong untuk Kim Jojo,
"All that matters to me is that you act on how you truly feel. If you ignore my texts, I'll let myself be ignored. If you stand me up, I'll let myself be stood up. And if you dump me, I'll let myself be dumped. All of that is romance to me because we'd be doing things together that I can't do on my own."—Hye-young
Kata-katanya memang sederhana. Tidak puitis, pun tidak juga menggunakan diksi yang indah. Tetapi, bukan itu yang membuat saya menyukai kata-kata Hye Yeong. Bukan diksi yang menjadi poin utamanya, melainkan makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut yang menurut saya romantis.
Loh, itu romantis, kan? Menurut standar romantis dalam hidup saya, makna perkataan itu sudah termasuk kategori romantis. Ya, kalau menurut kamu sebaliknya, tidak mengapa. Standar romantis setiap orang beda-beda. Bukan masalah.
Pada intinya, kata-kata tersebut menginspirasi saya dalam menulis tulisan di atas. Poin utamanya, ya, sama halnya seperti yang dikatakan Hye Yeong ke Jojo bahwa adalah romantis ketika kita melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendirian secara bersama-sama.
Seperti merindu. Dalam hal merindu (secara subjektif, tentu saja) dibutuhkan dua pihak untuk melakukannya. Pihak yang merindu dan pihak yang dirindukan. Hell, tidak peduli si yang merindu akan mendapatkan timbal balik atau tidak dari si yang dirindukan ini, intinya satu. Butuh dua pihak.
Sama juga seperti mencintai, sebuah pertemuan, sebuah peluk untuk menghangatkan cinta yang mengelabu. Setidak-tidaknya butuh dua pihak untuk melakukannya.
Azek azek jozz wkwkwk.
Oke, sepertinya sampai di situ dulu penjelasannya. Ada hal lain yang mau saya jelasin. Tidak berguna, sih, tapi saya hanya ingin bercerita.
Berbicara tentang drama korea, sudah lumayan lama saya tidak mengonsumsinya. Terakhir kali adalah tahun lalu, sewaktu libur panjang sambil menunggu info lebih lanjut mengenai proses perkuliahan, drama yang saya tonton saat itu adalah "While were You Sleeping" kalau tidak salah judulnya seperti itu. Drama korea yang membahas mengenai dunia hukum dan dicampur dengan sedikit bubuk fantasi. Setelah itu, saya tidak pernah lagi mengonsumsi drama korea untuk nyantuy-nyantuy manja.
Karena beberapa bulan terakhir ini saya sedang suka-sukanya menikmati Anime dan segala hal berbau Western atau istilah lainnya Hollywood (?)
Bulan Juli lalu saya baru kembali mengonsumsi drama korea lagi, sudah lama tidak mengikuti perkembangannya, alhasil jadi bingung mau nonton yang mana wkwkwk.
Ya sudah karena lagi pengen yang ringan-ringan, ketemulah dengan Love Alarm ini. Menarik, meski tidak sampai membuat saya ingin merekomendasikan drakor ini ke seluruh makhluk bumi.
Dari awal nonton Love Alarm ini saya memutuskan masuk Tim Hye Yeong daripada Sun Oh karena karakternya yang buat saya ikut jatuh cinta dengannya.
Nope. Jatuh cinta terlalu berlebihan, saya tidak se-jatuh-cinta itu dengannya. Apa ya kata yang tepat, kagum? Senang? Condong memilih? Tertarik? Ya, mungkin tertarik.
Saya tertarik dengan bagaimana cara Hye Yeong mencintai Jojo. Meskipun, di season satu ini Hye Yeong sulit sekali jujur terhadap perasaannya sendiri, sampai akhirnya rela mengalah untuk Sun Oh, agak kesel juga karena dia mencintai Jojo, tapi seolah tidak ada perjuangan untuk mendapatkan Jojo, malah memilih mengalah. Ya, tidak mengapa. Tidak semua lelaki berani seperti Sun Oh yang ngeselin. Baru kenal, langsung nyosor. Memang taik
Iya ngeselin. Sun Oh, tidak bisa menjaga batasan yang seharusnya bisa dia jaga. Setidaknya, untuk mendekati Jojo harus ada tahapannya. Tapi, Jojo juga sama ngeselinnya. Di awal, diperlihatkan bahwa Jojo seperti tidak tertarik dengan Sun Oh, tapi ketika dicium (mohon maaf) Jojo tidak menolak dan tidak tegas dengan tindakan Sun Oh yang kelewat lancang itu. Hell, itu tidak romantis. Tapi, menakutkan! Aneh saja, jika ada yang mengatakan tindakan asal nyosor tersebut adalah tindakan yang romantis. Menggelikan sekali.
Padahal, saat itu Jojo sudah taken. Walau, Jojo memiliki perasaan yang sama dengan pacarnya, tetap saja hal yang demikian tidak lantas membenarkan tindakan Jojo. Syukurlah, keduanya langsung putus. Mempertahankan hubungan atas dasar kasihan atau 'tidak enak hati' dengan seseorang yang tidak kita cintai, tidak memberikan jaminan kebahagiaan selama kita menjalaninya.
Dibanding Sun Oh, Hye Yeong lebih beradab. Dia tahu bahwa seorang laki-laki dan perempuan yang belum saling kenal (pun yang sudah) memiliki batasan-batasan yang harus dijaga dan tidak boleh asal dilewati begitu saja tanpa izin. Hye Yeong lebih dewasa, tentu saja.
Cara Hye Yeong mencintai Jojo itu menarik buat saya. Bagaimana Hye Yeong rela bekerja paruh waktu di tempat yang sama dengan Jojo (tapi, hasilnya tetap jarang ngobrol dan setidaknya saling sapa)
Bagaimana Hye Yeong memberikan perhatian kecil 'secara tidak langsung di depan Jojo'
Bagaimana Hye Yeong menunggu di depan kedai/restoran (?) hingga Jojo pulang kerja dan mengikuti Jojo ke halte serta menjaga Jojo yang sedang menunggu bus dari jarak jauh karena masih belum berani mendekatinya.
(Ya, mengikutinya Hye Yeong hanya sebatas sampai halte dan niatnya untuk menjaga Jojo karena sudah malam, bukan mengikuti untuk melakukan kejahatan)
Dan lain-lain. Menarik. Meskipun, hal tersebut adalah klise, tapi menarik. Saya suka.
Makanya, ketika season dua dirilis. Saya lumayan excited untuk menamatkan drakor ini karena di sini Hye Yeong sudah lebih berani untuk jujur dengan perasaannya, untuk mendekati Jojo, untuk lebih terang-terangan terhadap Jojo bahwa dirinya menyukai Jojo.
Hye Yeong sangat kontras dengan Sun Oh yang blak-blakan.
Hye Yeong berani mendekati Jojo dan terang-terangan dengan perasaannya, tetapi tidak memaksa Jojo untuk seketika itu juga wajib menyukai balik dirinya. Hye Yeong menghargai perasaan Jojo, menghargai bahwa perasaan itu tidak bisa dipaksa. Kalau memang belum ada, ya sudah. Hye Yeong akan menunggu sambil terus berusaha untuk menghadirkan perasaan itu dengan caranya sendiri.
Hye Yeong akan menunggu hingga saat tersebut tiba. Saat di mana Jojo bisa menyukainya dan menjalin hubungan atas dasar cinta, bukan semata karena kasihan atau merasa tidak enak hati.
Hye Yeong tidak menganut prinsip, "jalani dulu aja" yang absurd itu.
Dan saya menghargai itu. Hal tersebut menjadi poin lebih untuk Hye Yeong.
Praktisnya, di season dua Hye Yeong mau berjuang dan perjuangannya membuahkan hasil. Hasil yang juga memuaskan saya sebagai penonton.
Bahwa Jojo juga memiliki perasaan yang sama dengan Hye Yeong dan Hye Yeong adalah sebenar-benarnya seseorang (perantara dari Tuhan) yang bisa mengobati luka hatinya.
Terima kasih Jojo, pilihanmu sudah tepat. Walaupun, banyak yang kecewa karena pilihan Jojo jatuh kepada Hye Yeong dan bukannya Sun Oh. Ya, setelah saya amati lumayan banyak yang masuk Tim Sun Oh. Wkwkwk. Bahkan aktris yang memerankan Jojo sendiri juga lebih memilih Sun Oh, tapi Hye Yeong tetap yang terbaik.
Sekian.
Loh, itu romantis, kan? Menurut standar romantis dalam hidup saya, makna perkataan itu sudah termasuk kategori romantis. Ya, kalau menurut kamu sebaliknya, tidak mengapa. Standar romantis setiap orang beda-beda. Bukan masalah.
Pada intinya, kata-kata tersebut menginspirasi saya dalam menulis tulisan di atas. Poin utamanya, ya, sama halnya seperti yang dikatakan Hye Yeong ke Jojo bahwa adalah romantis ketika kita melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendirian secara bersama-sama.
Seperti merindu. Dalam hal merindu (secara subjektif, tentu saja) dibutuhkan dua pihak untuk melakukannya. Pihak yang merindu dan pihak yang dirindukan. Hell, tidak peduli si yang merindu akan mendapatkan timbal balik atau tidak dari si yang dirindukan ini, intinya satu. Butuh dua pihak.
Sama juga seperti mencintai, sebuah pertemuan, sebuah peluk untuk menghangatkan cinta yang mengelabu. Setidak-tidaknya butuh dua pihak untuk melakukannya.
Azek azek jozz wkwkwk.
Oke, sepertinya sampai di situ dulu penjelasannya. Ada hal lain yang mau saya jelasin. Tidak berguna, sih, tapi saya hanya ingin bercerita.
Berbicara tentang drama korea, sudah lumayan lama saya tidak mengonsumsinya. Terakhir kali adalah tahun lalu, sewaktu libur panjang sambil menunggu info lebih lanjut mengenai proses perkuliahan, drama yang saya tonton saat itu adalah "While were You Sleeping" kalau tidak salah judulnya seperti itu. Drama korea yang membahas mengenai dunia hukum dan dicampur dengan sedikit bubuk fantasi. Setelah itu, saya tidak pernah lagi mengonsumsi drama korea untuk nyantuy-nyantuy manja.
Karena beberapa bulan terakhir ini saya sedang suka-sukanya menikmati Anime dan segala hal berbau Western atau istilah lainnya Hollywood (?)
Bulan Juli lalu saya baru kembali mengonsumsi drama korea lagi, sudah lama tidak mengikuti perkembangannya, alhasil jadi bingung mau nonton yang mana wkwkwk.
Ya sudah karena lagi pengen yang ringan-ringan, ketemulah dengan Love Alarm ini. Menarik, meski tidak sampai membuat saya ingin merekomendasikan drakor ini ke seluruh makhluk bumi.
Dari awal nonton Love Alarm ini saya memutuskan masuk Tim Hye Yeong daripada Sun Oh karena karakternya yang buat saya ikut jatuh cinta dengannya.
Nope. Jatuh cinta terlalu berlebihan, saya tidak se-jatuh-cinta itu dengannya. Apa ya kata yang tepat, kagum? Senang? Condong memilih? Tertarik? Ya, mungkin tertarik.
Saya tertarik dengan bagaimana cara Hye Yeong mencintai Jojo. Meskipun, di season satu ini Hye Yeong sulit sekali jujur terhadap perasaannya sendiri, sampai akhirnya rela mengalah untuk Sun Oh, agak kesel juga karena dia mencintai Jojo, tapi seolah tidak ada perjuangan untuk mendapatkan Jojo, malah memilih mengalah. Ya, tidak mengapa. Tidak semua lelaki berani seperti Sun Oh yang ngeselin. Baru kenal, langsung nyosor. Memang taik
Iya ngeselin. Sun Oh, tidak bisa menjaga batasan yang seharusnya bisa dia jaga. Setidaknya, untuk mendekati Jojo harus ada tahapannya. Tapi, Jojo juga sama ngeselinnya. Di awal, diperlihatkan bahwa Jojo seperti tidak tertarik dengan Sun Oh, tapi ketika dicium (mohon maaf) Jojo tidak menolak dan tidak tegas dengan tindakan Sun Oh yang kelewat lancang itu. Hell, itu tidak romantis. Tapi, menakutkan! Aneh saja, jika ada yang mengatakan tindakan asal nyosor tersebut adalah tindakan yang romantis. Menggelikan sekali.
Padahal, saat itu Jojo sudah taken. Walau, Jojo memiliki perasaan yang sama dengan pacarnya, tetap saja hal yang demikian tidak lantas membenarkan tindakan Jojo. Syukurlah, keduanya langsung putus. Mempertahankan hubungan atas dasar kasihan atau 'tidak enak hati' dengan seseorang yang tidak kita cintai, tidak memberikan jaminan kebahagiaan selama kita menjalaninya.
Dibanding Sun Oh, Hye Yeong lebih beradab. Dia tahu bahwa seorang laki-laki dan perempuan yang belum saling kenal (pun yang sudah) memiliki batasan-batasan yang harus dijaga dan tidak boleh asal dilewati begitu saja tanpa izin. Hye Yeong lebih dewasa, tentu saja.
Cara Hye Yeong mencintai Jojo itu menarik buat saya. Bagaimana Hye Yeong rela bekerja paruh waktu di tempat yang sama dengan Jojo (tapi, hasilnya tetap jarang ngobrol dan setidaknya saling sapa)
Bagaimana Hye Yeong memberikan perhatian kecil 'secara tidak langsung di depan Jojo'
Bagaimana Hye Yeong menunggu di depan kedai/restoran (?) hingga Jojo pulang kerja dan mengikuti Jojo ke halte serta menjaga Jojo yang sedang menunggu bus dari jarak jauh karena masih belum berani mendekatinya.
(Ya, mengikutinya Hye Yeong hanya sebatas sampai halte dan niatnya untuk menjaga Jojo karena sudah malam, bukan mengikuti untuk melakukan kejahatan)
Dan lain-lain. Menarik. Meskipun, hal tersebut adalah klise, tapi menarik. Saya suka.
Makanya, ketika season dua dirilis. Saya lumayan excited untuk menamatkan drakor ini karena di sini Hye Yeong sudah lebih berani untuk jujur dengan perasaannya, untuk mendekati Jojo, untuk lebih terang-terangan terhadap Jojo bahwa dirinya menyukai Jojo.
Hye Yeong sangat kontras dengan Sun Oh yang blak-blakan.
Hye Yeong berani mendekati Jojo dan terang-terangan dengan perasaannya, tetapi tidak memaksa Jojo untuk seketika itu juga wajib menyukai balik dirinya. Hye Yeong menghargai perasaan Jojo, menghargai bahwa perasaan itu tidak bisa dipaksa. Kalau memang belum ada, ya sudah. Hye Yeong akan menunggu sambil terus berusaha untuk menghadirkan perasaan itu dengan caranya sendiri.
Hye Yeong akan menunggu hingga saat tersebut tiba. Saat di mana Jojo bisa menyukainya dan menjalin hubungan atas dasar cinta, bukan semata karena kasihan atau merasa tidak enak hati.
Hye Yeong tidak menganut prinsip, "jalani dulu aja" yang absurd itu.
Dan saya menghargai itu. Hal tersebut menjadi poin lebih untuk Hye Yeong.
Praktisnya, di season dua Hye Yeong mau berjuang dan perjuangannya membuahkan hasil. Hasil yang juga memuaskan saya sebagai penonton.
Bahwa Jojo juga memiliki perasaan yang sama dengan Hye Yeong dan Hye Yeong adalah sebenar-benarnya seseorang (perantara dari Tuhan) yang bisa mengobati luka hatinya.
Terima kasih Jojo, pilihanmu sudah tepat. Walaupun, banyak yang kecewa karena pilihan Jojo jatuh kepada Hye Yeong dan bukannya Sun Oh. Ya, setelah saya amati lumayan banyak yang masuk Tim Sun Oh. Wkwkwk. Bahkan aktris yang memerankan Jojo sendiri juga lebih memilih Sun Oh, tapi Hye Yeong tetap yang terbaik.
Sekian.

Komentar
Posting Komentar