Malam Ini Tuan Sedang Bersedih

Di suatu kelam
Detak waktu terhenti
Seluruh bunyi sunyi
Tinggal isakmu yang bising

Tiada apapun nampak
Hanya terang setitik cahaya
Berkilaulah degupan air mata
Mengalir hingga ke lembah

Dan di antara gumpalan gulita
Adalah dikau Tuan
Menciptakan irama sendu
Terseok-seok dalam pilu

Setelah sekian siang dan malam
Kutemukan kau di kaki kesedihan
Menuruni saban tangga lara
Menuju bara kausa tangisan

"TUAN!"
"TUAN!"
"TUAN!"

Teriakku lantang, menghancurkan setiap gendang
Namun isakmu membisukan bahana
Ada apa gerangan Tuan merana?
Hingga teriakku tak kau hiraukan

"TUAN!"
"TUAN!
"TUAN!"

Uluran tangan belulang terentang
Menggapai akar ketenangan
Kemanakah kewibawaanmu, Tuan?
Hancurkah ia bersama kesenduan?

Langkahmu aksa menuju alam kerapuhan
Nyala api dalam pandangmu padam di bawah kebimbangan
Tuan, haruskah engkau menyerah pada kekalahan?
Izinkan aku mendekapmu dalam kedamaian

"TUAN!"
"TUAN!"
"TUAN!"

Mengapa engkau bertekuk pada kemalangan?
Tidakkah kau dengar tangis jejak langkahmu di belakang?
Betapa kau menafikkan setiap jerih dan doa
Melucutinya hingga tersingkap di peraduan

Tuan...

Tuan...

Tuan...

Tandus sudah suaraku


Rupanya,
;peluk sebuah lara telah merebut jiwa dan kasihmu



_________

Tertanda,


Elsa A. Wear


Ditulis pada 12 Juni 2022
/
Direvisi pada 5 Juli 2023

_________


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.