Matinya Seorang Pemabuk Tua

Sewaktu gelita mencumbu malam
Tak hanya seri kartika memandang
Ribuan gelap terang turut mendengar
Melahap asa si pemabuk tua yang resah

Ia resah
Kidung mala tlah dikumandangkan
Sunyi demi sunyi ia menghilang
Menenggak asin pilu dalam gubuk tua
Sesak terjerat muram sebuah jiwa

Tuhan, aku telah lama menderita
Telah lama aku sengsara
Diracuni kemelaratan
Nelangsa tak berkesudahan

Aku ingin mati saja, Tuhan

Tuhan, aku ingin mati saja

Begitulah ia berteriak di sunyi yang kesekian
Sedang ribuan gelap terang diam
Menatap dan mendengar
Mendengar dan menatap

Tiap tiap bernyawa menyaksikan
Betapa mematikan garis kesengsaraan 
Dari seorang pemabuk tua yang kesepian;
Sendirian

Tidak, ia tidak seorang diri
Sanak istri telah lama menahan diri
Merana di atas jutaan pedih
Lelah meminum air mata sendiri

Seharusnya pak tua berhenti
Betapa muak diperingati seribu kali
Hingga istripun ingin ikut mati
Mati, mati, mati; sendiri

Lantas bagaimana anak-anak?

Biarlah;

Nanti juga mati
Mati hari ini
Mati esok hari
Ujung-ujungnya mati
Karena akhirnya semua mati

;sendiri

Kejam!
Gelap terang tiba membara
Gelap semakin kelam
Terang semakin gemerlap
Maka murka pun berang

Kejam!
Biadab!
Durjana!
Tapi juga hina!
Puncak murka bergelora
Tubuh raja pemabuk terbakar
Tetapi ia kegirangan

Maka berdansalah ia bersama nyala api
Tiada berarti air mata sanak istri
Sebab ia telah mati

Mati dilahap api
Dan tawanya pun meredam bunyi

Dalam setiap bait
Ia mengidungkan pahit
Pedih dan sakit
Sakit dan pedih

Ah
Kota pun banjir
Langit pun menangis

Sebab ia tlah menelantarkan air matanya yang terakhir

Ya, si pemabuk tua mati menantang takdir



__________


Tertanda,


Elsa Wear
[Ambon, 3 Agustus 2023]





Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.