Pagi Memberi Rindu


Halo, sudah lumayan lama sejak terakhir kali saya menulis catatan harian. Ah, haruskah saya menyebutnya demikian? Ketika menulis ini saya sedang menikmati suasana pagi di teras rumah bibi sahabat saya, Indisari atau sering saya panggil Hana. Suasana di sini berhasil membawa saya bernostalgia pada hangatnya pagi di rumah lama saya dulu. Udara menyegarkan diharmonikan dengan kicauan burung gereja dan kokokan ayam jantan yang saling sahut-menyahut dari segala penjuru mewarnai pagi dengan amat cantik. Sungguh, betapa saya merindukan semua itu.

Hanya saja, di sini tidak ada eksistensi nyata Ayah, Mama, dan adik lucknut saya yang ke-kiyowo-annya telah sirna, Fahri. Pun, teh manis panas dan nasi goreng khas buatan Mama. Semua yang saya sebutkan itu harus berada nun jauh di Tual sana. Harus menyeberang pulau. Harus lintas daerah. Lagi-lagi masalah jarak. Menyebalkan! Tapi, mau bagaimana lagi? Terpaksa, yang dapat saya lakukan sejauh ini adalah menggali kembali lubang memori mengenai bagaimana keluarga kecil kami memulai hari dan membayangkannya, menyesapinya, menggalinya lebih jauh, kemudian masuk ke dalam abstraksi pikiran saya yang berangsur-angsur mulai berimajinasi. Sejujurnya, saya benci harus melakukan ini karena bukannya mengobati rindu, penggalian kenangan seperti itu justru menambah porsi kerinduan yang sudah membludak dan semakin membludak. Kemudian, meledak. 

BOOM.

Matilah saya. Mati dicerca rindu. Kata siapa rindu tidak mematikan? Lihatlah, betapa setengah matinya saya dicerca kecamuk rindu yang membabi buta. Ah, merepotkan saja. Saya harus mati lagi untuk kesekian kalinya. Rindu membuat saya mati berkali-kali. Nah, saya ulang lagi, kata siapa rindu tidak dapat membuat mati? Memangnya tulisan siapa yang sedang kau baca saat ini kalau bukan seseorang yang telah mati berulang kali? 

Sudah, sudah. Ini bukan permainan kata yang sering disebut puisi, kata saya pada diri sendiri. Sekarang mentari sudah mulai percaya diri menampilkan sinarnya, sudah tidak malu-malu lagi. Tetapi sayangnya, berbagai awan yang entah datang darimana malah menutupi sebagian kepercayaan diri yang susah payah ditunjukkan mentari. Namun, kehadiran angin membantu upaya mentari itu dengan meniup jauh-jauh keberadaan gumpalan-gumpalan awan ke kanan, ke kiri, ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, ke samping, ke depan, ke belakang, ke mana saja asal tidak lancang menutupi sinar matahari pagi ke warga bumi. Syuh... syuh... syuh... jauh-jauh sana. Angin pun geram.

Ah, semoga awan tidak bersedih diusir angin. Sebab, saya tidak bisa pulang nanti. Merepotkan saja kalau awan sampai harus menangis. Masa iya saya harus pulang sambil berbasah-basah diri? Bagaimana kalau saya sakit? Apakah awan mau mengobati? Mengobati diri sendiri saja sulit. Kata saya pada awan di langit. Tapi awan tidak bisa tertawa atau menanggapi, dia hanya bisa menangis, jadi dia diam saja dan pergi. Saya harap, setidak-tidaknya awan tidak tuli dan merenungi perbuatan sendiri sebelum pergi. Aamiin.

Ketika sinar mentari sudah mulai terlihat lagi dengan lebih tinggi hati, barulah saya menyadari bahwa pemandangan pagi hari di sini tidak kalah cantik dengan yang terlihat pada malam hari. Ketika suasana telah terang, semua terlihat jelas. Ada gunung hijau nan cantik dengan sebuah pohon kecil di atasnya nampak anggun di sebelah kanan saya. Wah, cantik sekali. Saya ingin memuji Tuhan dan selalu ingin memuji-Nya sepanjang hidup saya atas keindahan ciptaan-Nya. 

Izinkan saya, Tuhan. 

Tuhan, izinkan saya. 

Untuk memuji-Mu. 

Ciptaan-Mu. 

Semua yang berasal dari-Mu. 

Masyaa Allah. Puji saya kepada Tuhan Yang Maha Indah. Betapa indah kreasi-Nya di bumi. Gunung, langit, awan, mentari, bunga.

Ah, bunga. Di sekeliling saya banyak bunga-bunga. Kepunyaan bibinya Indisari. Saya pikir, beliau pecinta bunga. Sepertinya. Sudah begitu, bunga-bunga tersebut ditempatkan dalam pot dan tempat pajangan yang tidak kalah cantik. Bayangkan saja kecantikan yang dipadukan dengan kecantikan lainnya. Bagaimana jadinya? Sudah? Sudah dibayangkan? Nah, bagus. Kalau begitu sampai di sini saja dulu. Sebab, saya sudah buntu. Bukan, bukan saya secara utuh. Tetapi otak kiyowo saya yang buntu. Tidak tahu harus menulis apa lagi selain yang telah saya jelaskan itu. Jadi sampai jumpa di lain waktu.

*kalau saya tidak malas menulis dan memilih turu. >_<



Tertanda,

Elsa A. Wear

Ambon, 4 Agustus 2023
[06.22]

_____

Oh iya, ini adalah gambar-gambar yang saya ambil dari teras rumah bibinya Hana seperti yang saya sebutkan di atas. •_•

















Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.