Segenggam Jawaban Abal-Abal atas Omnipotence Paradox
Ketika mendapatkan
jawaban atas pertanyaan dalam paradoks ini, saya sedang gabut. Tidak tahu harus
melakukan apa lagi dalam hidup yang menjenuhkan ini. Terlebih, saya begitu
mengantuk, tetapi kelopak mata sulit sekali mengatup. Mungkin karena terlalu
banyak kafein yang saya konsumsi selama beberapa hari terakhir. Alasan
tersebutlah yang membuat saya ingin membagikan sedikit jawaban abal-abal
atas Omnipotence Paradox secara tulisan melalui blog mungil
kiyowo kemasan sachet saya yang sudah berdebu sebab tidak
pernah saya singgahi lagi sejak 12 September 2023 lalu. Hahaha.
Membahas persoalan
ketuhanan dalam dunia ini tak akan pernah ada masa kadaluwarsanya. Sebagai
sebuah entitas yang begitu anonim, siapapun pasti penasaran dengan bagaimana
wujud Tuhan dan kebenaran akan keberadaan Tuhan di semesta ini. Ada yang
meyakini keberadaan-Nya dengan menganut agama tertentu, ada yang meyakini-Nya
dengan tidak menganut agama apapun, dan bahkan ada yang sama sekali tidak
meyakini-Nya. Semua itu adalah pilihan. Dan kehadiran Omnipotence Paradox
tentunya memiliki peran bagi menggoyahkan keyakinan sebagian orang-orang yang
meyakini adanya Tuhan.
Jadi, apa itu Omnipotence
Paradox?
Saya yakin sebagian dari
kita pasti pernah mendengar atau membaca paradoks yang mempertanyakan kekuasaan
Tuhan ini karena Omnipotence Paradoks sendiri dikenal pula
sebagai Paradoks Kemahakuasaan, di mana bunyi dari paradoks tersebut adalah
sebagai berikut :
“Apakah Tuhan dapat
menciptakan sebuah batu yang sangat berat yang bahkan Tuhan sendiri pun tidak
dapat mengangkat batu tersebut?”
Ada dua sifat Tuhan yang
dipertanyakan dalam paradoks ini yaitu sifat Tuhan Yang Maha Kuasa dan sifat
Tuhan Yang Maha Menciptakan dan apapun jawaban yang kita berikan terhadap
pertanyaan paradoks ini, selama masih berada dalam lingkup jawaban ya atau
tidak, bisa atau tidak bisa, maka jawaban tersebut akan selalu menyerang sifat
Tuhan yang dipertanyakan. Itulah mengapa paradoks ini seringkali digunakan
sebagai alat andalan orang-orang atheis untuk menyerang orang-orang yang
beragama.
Mengapa? Untuk lebih
sederhananya, mari kita lihat tabel di bawah ini :
|
YA |
TIDAK |
|
Tuhan tidak Maha Berkuasa |
Tuhan tidak Maha Menciptakan |
Jika kita memilih opsi
pertama bahwa ya, sesungguhnya Tuhan dapat menciptakan sebuah batu besar nan
berat yang Tuhan sendiripun tidak sanggup mengangkatnya, maka secara tidak
langsung jawaban yang kita pilih tersebut akan menyerang sifat Tuhan Yang Maha Kuasa
karena bagaimana bisa Tuhan disebut Maha Kuasa jika Dia tidak dapat mengangkat
batu ciptaan-Nya sendiri kendati batu tersebut teramat berat?
Namun bilamana kita
memilih opsi kedua bahwa Tuhan tidak dapat menciptakan batu yang beratnya tidak
dapat Dia angkat atau bahwa Tuhan dapat menciptakan batu tersebut, tapi di lain
sisi Tuhan juga dapat mengangkatnya dengan mudah. Maka, jawaban ini pun telah
menyerang sifat Tuhan Yang Maha Menciptakan, salah satu sifat Tuhan yang
diyakini seluruh umat beragama. Mengapa jawaban terakhir ini pun dapat
dikatakan menyerang sifat Tuhan yang demikian? Hal tersebut terletak pada sisi
ketidakmampuan Tuhan dalam menciptakan sesuatu, kendati ciptaan yang dimaksud
bertentangan dengan sifat Tuhan itu sendiri. Padahal setiap dari kita yang
beragama meyakini bahwa Tuhan dapat menciptakan apapun, siapapun, kapanpun, dan
di manapun.
Kun Fayakun, jadilah maka terjadilah!
Demikianlah kemahakuasaan Tuhan yang sebagian dari kita yakini.
Sebenarnya, dilihat dari sudut manapun, jawaban yang kita berikan akan senantiasa menyerang sifat-sifat Tuhan, lebih khusus lagi sifat Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah mengapa paradoks ini disebut pula sebagai Paradoks Kemahakuasaan. Benarkah Tuhan Maha Kuasa jika tidak dapat mengangkat batu yang diciptakan-Nya? Benarkah Tuhan Maha Kuasa lagi Maha Menciptakan jika tidak dapat menciptakan batu yang tidak dapat diangkat-Nya? Benarkah Tuhan Maha Kuasa jika gagal menciptakan batu berat tersebut (dapat menciptakan, dapat pula mengangkatnya = gagal)? Benarkah Tuhan Maha Kuasa? Benarkah Tuhan itu ada?
Paradoks. Menjawab
pertanyaan ini seperti menjawab pertanyaan, "bisakah kamu bergerak ke kiri
sekaligus ke kanan dalam ruang dan waktu yang sama, di menit dan detik yang
sama?" Kita pasti akan kesulitan memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Sebenarnya, inti dari
paradoks ini adalah kemahakuasaan Tuhan. Bahwa Tuhan berkuasa dan sanggup untuk
melakukan apapun, menciptakan apapun, berbuat apapun tanpa pengaruh siapapun.
Nah, bagaimana?
Memusingkan, bukan?
Memang memusingkan. Sebab,
pertanyaan ini sendiri sudah memusingkan sejak awal kelahirannya dan hal yang
membuatnya lebih memusingkan adalah kecacatan yang terdapat di dalam pertanyaan
tersebut.
Ya, pertanyaan ini
cacat.
Sungguh cacat.
Kecacatan tersebut
terletak pada esensi pertanyaan yang menggabungkan dua konsep yang saling
bertentangan yakni konsep Tuhan dan konsep berat (batu yang berat). Mari kita
lihat kembali pertanyaan tersebut secara utuh.
“Apakah TUHAN dapat
menciptakan sebuah BATU YANG SANGAT BERAT yang bahkan Tuhan
sendiri pun tidak dapat mengangkat batu tersebut?”
Konsep berat di sini
adalah konsep yang digabungkan secara utuh dengan konsep Tuhan, tapi sebenarnya
apa itu berat? Dapatkah konsep Tuhan digabungkan dengan konsep berat di dunia
yang kita ketahui sejauh ini?
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, berat didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki ukuran sangat
besar dengan tekanan yang juga tidak kalah besarnya. Sedangkan dalam Dunia
Fisika, berat merupakan salah satu besaran yang menghitung jumlah gaya yang terdapat
pada massa sebuah benda dengan memperhatikan percepatan gravitasi yang
ada. [1]
Pada hakikatnya, berat
adalah gaya, yakni gaya gravitasi yang diperoleh sebuah benda[2], sehingga benda tersebut dapat
terasa berat atau ringan. Berat memiliki kaitan erat dengan massa, hal
tersebut disebabkan karena dalam menghitung berat sebuah benda, terdapat dua
faktor penting yang harus diperhatikan yakni faktor massa benda tersebut dan
faktor gaya gravitasi yang diperolehnya. Berikut adalah rumus menghitung berat
yang telah ditemukan dan digunakan sejauh ini:
w = m x g
Berat dan massa tentunya
berbeda. Jika berat berpatokan pada gaya gravitasi yang diperoleh sebuah benda,
maka massa lebih banyak berbicara tentang berapa banyak materi yang terdapat
dalam benda tersebut. Artinya, massa sebuah benda akan selalu sama di manapun
ia berada, akan tetapi berat sebuah benda bisa berbeda tergantung di mana dan
seberapa besar gaya gravitasi tempat benda tersebut berada.
Berat sebuah batu
bermassa 100 kg jika diletakkan di Bumi akan berbeda jika diletakkan di
Jupiter. Namun, massa dari batu tersebut tetap sama, 100 kg. Mengapa? Tentunya
karena besar gaya gravitasi yang ada di Bumi dan Jupiter berbeda sehingga
berpengaruh terhadap berat batu tersebut, tetapi tidak mempengaruhi massanya
karena massa batu yang memiliki banyak materi sebesar 100 kg akan tetap 100 kg
di manapun ia berada.
Jangankan perbedaan berat batu beda planet. Di bumi sendiri pun jika batu diletakkan di wilayah Kutub, berat batu tersebut akan berbeda jika diletakkan di wilayah Khatulistiwa. Mengingat kondisi bumi yang tak sepenuhnya bulat dan perbedaan permukaan bumi di suatu wilayah dengan wilayah lainnya lah yang menjadi penyebab gaya gravitasi di daerah Kutub lebih besar dan kuat dibanding di wilayah Khatulistiwa.[3]
Dari penjabaran tersebut
dapat kita ketahui bahwa berat sebuah benda tidaklah bersifat mutlak dan
sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dari segala sisi, sudah barang tentu
kita dapat merasakan berat tidaknya sebuah benda karena kita memiliki
keterbatasan tenaga di tengah-tengah ruang bumi yang memiliki gravitasi.
Lantas yang menjadi
pertanyaan berikutnya adalah berat seperti apa yang dimaksud dalam Paradoks
Kemahakuasaan ini? Berat di Bumi kah? Berat di Angkasa kah? Atau berat di dunia
manusia yang penuh keterbatasan?
Setiap insan yang
beragama akan meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Tak Terbatas, Dia tak dibatasi
oleh apapun dan siapapun. Kekuatan-Nya tak terbatas, begitupun
Kemahakuasaan-Nya. Sehingga bila kita menggabungkan konsep Tuhan Yang Maha Tak
Terbatas lagi Maha Kuasa dengan konsep ‘berat' yang ada di dunia manusia,
bukankah keduanya akan saling bertentangan?
Bagaimana bisa Tuhan
yang menciptakan konsep berat di dunia manusia, di muka bumi, di alam semesta,
di mana Tuhan sendiri berkuasa atas konsep berat yang diciptakan-Nya kalah akan
konsep yang diciptakan-Nya sendiri. Sedangkan, kekuatan yang dimiliki-Nya adalah
tak terbatas dengan dalih yang berputar-putar dan terlalu memaksa dengan
menggabungkan dua konsep yang saling bertabrakan seperti yang terdapat dalam
paradoks kemahakuasaan ini?
Berat adalah salah satu
konsep yang Tuhan ciptakan.
Tuhan adalah Maha Tak
Terbatas, Maha Kuasa.
Tuhan Maha Berkuasa atas
ciptaan-Nya sendiri.
Tuhan bukan tidak bisa
menciptakan batu yang beratnya tidak bisa Dia angkat, tetapi berat seperti apa
yang dimaksud jika berat suatu benda bersifat tidak mutlak tergantung besar
gravitasi yang mempengaruhinya? Bagaimana bisa Tuhan takluk dengan apa yang
diciptakan-Nya (konsep berat—batu berat) dengan dalih jika Tuhan tidak takluk,
maka Dia tidak Maha Menciptakan, tetapi jika Tuhan takluk, Dia tidak Maha
Kuasa?
Sejatinya, ruang dan
waktu yang dijalani manusia sungguh berbeda dengan ruang dan waktu yang
dijalani oleh makhluk-makhluk ghaib yang sampai saat ini masih belum
terpecahkan, begitupun dengan ruang dan waktu milik Tuhan yang bahkan konsep
ruang dan waktu itu sendiri pun adalah ciptaan-Nya, konsep yang berada dalam
kuasa-Nya.
Intinya, dalam ruang dan
waktu manusia, kita mengenal adanya konsep berat karena manusia merupakan
makhluk yang terbatas (lebih-lebih dari segi tenaga dan kekuatan) dan kita
tinggal di bumi yang memiliki gaya gravitasi sebagai salah satu elemen penyebab
adanya berat.
Sehingga, menggabungkan konsep Tuhan dan konsep berat yang kita pahami dalam paradoks kemahakuasaan menjadikan pertanyaan paradoks ini menjadi cacat dan terlalu dipaksakan.
Note :
Jawaban di atas adalah murni opini pribadi. Tidak ada kebenaran mutlak yang termaktub dalam jawaban abal-abal atas paradoks yang telah ribuan tahun eksis di muka bumi ini. Bilamana terdapat ketidaksesuaian pendapat, maka marilah berdiskusi secara sehat tanpa saling menyerang personal masing-masing.
Sangkyu dan sedikit love you. (HUEK)
[1] Nisa Mutia Sari, (11
November 2023), Perbedaan Berat dan Massa pada Benda, Ketahui Jenisnya.
Merdeka. Diakses pada 12 Desember 2023. https://www.merdeka.com/sumut/perbedaan-berat-dan-massa-pada-benda-ketahui-jenisnya-47220-mvk.html?screen=18
[2] Ruslani, IPA
Fisika untuk Kelas VIII SMP/MTs Sesuai KTSP 2006, Tegal, Create
Space Publishing, LLC., 2012, hal. 3
[3] Putu Artawan, Analisis Variatif Gravitasi Bumi di Berbagai Koordinat dengan Ayunan Sederhana, Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA III Tahun 2013, 2013, hal. 39
sumber gambar : pinterest (ofc) <3

Wah beta dapat pengetahuan baru. Udah lama beta sg membaca seluwes ini. Biasanya tulisan yg membahas paradoks apalagi yg bersinggungan dg hakikat Tuhan cenderung berat, tapi ose membungkusnya dg sangat luwes. Semangat Elsa💜. By: Hana
BalasHapusAaaa, thank you so much udin mampir ya, Naaaa. Terima kasih atas dukungannya yang selalu hadir dan semangat juga dalam menjalani hidup ini, Hana Cinta Babunga.❤️🔥
HapusLuv sekebon. ❤️🔥