Kupikir, Semua Telah Berakhir.
Pukul dua tadi adalah pertemuan terakhir kami. Di sebuah ruang dan waktu yang tak dapat terdefinisi. Kupikir, seharusnya ini benar-benar telah berakhir. Tapi, dua tahun lalu pada pukul dua di ruang berbeda, aku juga mengatakan hal serupa. Bahwa semua telah mencapai sebuah nestapa.
Namun, semua belum berakhir. Tidak tahu untuk saat ini. Tumpukkan kertas memang telah usang dan berdebu, tapi tak kunjung dibiarkan membusuk. Kertas-kertas bergambar. Kertas-kertas berhuruf. Semuanya menari-nari dalam irama yang lucu. Seolah mengejek, "mengapa kami belum juga kaubuang?"
Aku menutup mata, meskipun telah lama ia tak melihat. Dan kututup pula telinga, meskipun telah lama ia tak mendengar. Aku seorang buta yang tuli, tapi tak bisu. Meskipun, di banyak waktu seringkali aku membisu.
Sekarang pukul setengah tiga. Tiga puluh menit setelah aku dan lelaki berambut sebahu itu memutuskan menaiki dua sembrani hitam milik ibu.
"Aku sudah punya kebun bungaku sendiri. Lahir dari tangan seorang pemahat terkemuka di seluruh jagat. Kemudian kurawat dan kujaga dari siapapun yang tak beradab. Sarinya lebih manis dari madu lebah manapun yang kauternak. Kesempurnaan kelopaknya mekar dari pesona Aphrodite yang jelita. Bilamana angin meniup, Bayu pun tersipu. Dan aku terjatuh dalam pelukan Gaia yang masyhur."
Dia berucap selagi kami memandangi kota kecil ini semakin mungil. Binar matanya terlampau silau, hingga bulan pun cemburu. Maka, ketika bintang-bintang bersembunyi di sebalik awan yang malu, dia berujar lanjut.
"Kau ... temukan kebunmu sendiri. Sebaiknya, tidak lebih indah darimu. Agar kelak kau tidak membencinya. Agar kelak kau bisa lebih bersyukur darinya. Agar kelak kau bisa belajar menerima."
Aku termangu. Hampir saja kehilangan keseimbangan dan jatuh membentur awan kelabu.
"Aku tak ingin berkebun." Kukatakan itu padanya sembari memegang erat punggung sembrani dengan lembut. Tak berani melumat tatapannya yang keramat nan candu. "Kupikir aku memang tak cocok 'tuk berkebun."
Dan ia pun tertawa lirih. Kidung suci yang menyenandungkan rekuiem malu sang langit. Gemuruh riang yang menakuti kendaraan kami. "Lantas kaupun akan mati."
"Kaupikir aku takkan sudi?" jawabku. Kali ini tak segan mengunci tatapannya.
"Bertemu sang Kala?"
"Sebuah anugerah."
"Mengapa?" Alisnya yang lebat bertaut. Rahangnya mengeras. "Tak cukupkah segunung dosa yang kauemban?"
"Mengapa?" Aku balik bertanya. "Tak cukupkah penderitaan yang kuselami seluas samudera?"
Ia terdiam. Lelaki itu terdiam. Bahunya yang gagah membeku. Sedetik pun enggan menoleh ragu. Sedang, kepak sayap sembrani yang sebening danau melissani terus membawa kami pada malam tak berujung. Alam pun semakin sendu. Rembulan tak lagi menyulam senyum. Dan bintang-bintang erat memeluk mendung.
"Menurutmu ...," kucoba memecah keheningan yang dingin, meraih sedikit saja apa yang mungkin, "mungkinkah alam sedang iba kepadaku atau justru mendayu atas ibamu padaku?"
Ia masih saja hening. Bergeming. Indah seperti pahatan Bernini yang halus dan penuh sensasi. Tatapannya gusar. Pikirannya yang rumit tak bisa kuramal.
Lelaki aneh. Seaneh bagaimana ia bertamu di kediamanku tujuh tahun lalu, menjamah setiap ruang dengan lugu, dan tak kubiarkan pergi hingga tujuh tahun berlalu. Biarlah ia mati dan berdebu. Akan kurawat tubuhnya yang layu dimakan malu. Tapi kali ini ...,
pada detak detik ini ...,
kuizinkan ia mencelus keluar pintu yang rapuh.
"Bukan salahmu tak mengerti arti derita," kataku pelan. Kubiarkan pula sembrani kami memelan. "Alam telah lama memanjakanmu sejak awal penciptaan."
Setelah sekian kemasygulan terlewati, ia mulai bertanya dengan lirih dan pedih. "Bagaimana denganmu, Puan yang baik hati?"
"Layaknya mahakarya Frankeinstein, kurasa."
"Bisa kau jelaskan?"
Pada bibir yang kering dikecup malam, sebisa mungkin kurajut sedikit harsa di sana. Mengabaikan pertanyaan yang ia ajukan. Kendati, binar penasaran terbingkai jelas di mata eloknya serupa berlian, aku tak kuasa berujar.
Tuanku yang agung, sekalipun aku bersanskerta atau bahkan menggunakan isyarat bisu. Orang-orang semujur dirimu takkan pernah mengerti. Biarlah orang-orang sepertiku menelan semua ketidaksudian alam pada kami.
Tentu saja tak kukatakan itu padanya. Hati lelaki sesyahdu itu terlalu daif untuk mendengar sesuatu senaif gejolak pemikiranku tadi. Biarlah batara, juga batari meniupnya hingga ke Akropolis.
Dalam kesunyian malam, kupejamkan sejenak mata yang lelah. Meresapi rambatan senyap. Menghadirkan bayang lelaki di depanku lamat-lamat.
Ia seseorang yang terlampau akmal. Sudah seyogyanya kubiarkan bebas. Tidak. Ia telah lama mengecup kebebasan, mengepak sayap menelusuri belantara. Bahkan menemukan sebuah maslahat yang adiwarna. Akulah yang seharusnya bebas. Membebaskan diri dari jeratan renjana di ruang-ruang yang ia jamah. Telah lama aku sengsara. Kutukan Eros sang durjana. Melesatkan sebilah busur berkarat kepada orang-orang yang ditulah alam. Sudah barang tentu kau tak dilesat. Oleh karenanya, hanya kami yang didera derita sepanjang hayat.
Menyakitkan, tapi tak mengapa.
Menyedihkan, tapi tak mengapa.
Mematikan, tapi tak mengapa.
Sebab, kali ini aku akan menantang alam. Mencabut kutukan eros yang merana. Meludahi alam dengan lancang. Dan manusia akan menorehkan sejarah puan yang malang.
Dan ketika remang semakin berang. Langit malam pun semakin berisik. Maka, kuraih belati yang ditempa Hepaestus dengan bengis. Runcing ujungnya berpijar akan amarah, juga gelora dendam yang membara. Sedang di sepanjang tepi belati, teroles darah Gorgon yang kental dan amis.
Meskipun tak sebesar pedang Themis, beratnya serupa menopang bumi. Atlas pun tak kuasa menahan diri, tetapi kebaikan sang penempa melingkupi. Kepada tuan dan puan yang membenci bumi, angkatlah belati ini setinggi mungkin. Teguhkan jiwa dengan tinggi hati. Tantanglah alam dengan berani. Tak gentar hingga mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Tuanku telah mati;
tertusuk belati
Mati.
Mati.
Mati.
Jasadnya didekap melissani yang suci;
dan murni
Mati.
Mati.
Mati.
Alam pun bersedih hati;
sudah tak sanggup lagi
Mati.
Mati.
Mati.
Sekali lagi, Tuanku telah mati.
Dengan sadis.
Dengan bengis.
Dan pukul dua tadi adalah pertemuan terakhir kami.
Kupikir, seharusnya ini benar-benar telah berakhir.
Dan semua memang telah berakhir.
Ambon, 02.30

deep banget ngena sampai ke tulang 🖤
BalasHapus