π‘·π’‚π’Œπ’†π’• π‘―π’‚π’“π’Š 𝑺𝒂𝒃𝒕𝒖.


Tuanku yang tutur katanya selalu santun dan rona pipinya selaras lembayung. Di terang yang sebentar lagi meredup, kuucapkan selamat hari sabtu. Semoga bunga-bungamu selalu layu dan harimu tak lagi pilu.

Semoga (pula) suratku benar-benar sampai ke halaman rumahmu sebelum kopi pekat itu selesai kauseduh. Setelah surat ini kaubaca, mungkin kau tak lagi dapat melihatku.

Dan kalau-kalau nanti kau tak melihatku, barangkali bumi telah menyesap tubuhku dengan rakus.

Kalau-kalau nanti kau tak kunjung menjumpaiku, barangkali langit telah meminangku dengan lembut.

Kalau-kalau nanti kau tak lagi mendengar suaraku, barangkali Hermes yang licik telah mencurinya sewaktu aku tidur.

Kalau-kalau nanti ... 

ah, kemungkinan ini sepertinya tidak mungkin.

Kali ini memang tidak mungkin. Sedari dulu, takkan pernah ada ruang di lorong-lorong gelap hatimu yang tersisa untuk memadu rindu. Lebih-lebih jika itu terhadapku. 

Jadi ... bagaimana kabar tubuhmu, Tuan? Mungkinkah ia menyusut dan renta kerana telah lama kau siksa? Tumpukkan pekerjaan yang entah kapan usainya. Otot-ototmu pasti sudah lama mengendur. Adakah kau lupa memotong setiap kuku jemari? Pasti sekarang sudah sepanjang derita orang-orang yang membenci hidup hari demi hari.

Lihat! Kantung matamu semakin menebal. Kerongkonganmu sekering sahara yang menanti zam-zam. Aduh, mengurus tubuh sendiri saja tidak becus. Percuma Tuhan menciptakan lekuk indah tubuhmu, kalau tak pernah kau urus seperti itu. 

Tuanku yang pelunya tak pernah mengering, agaknya perlu kau ketahui bahwa tak ada salahnya beristirahat sejenak dari setiap lelah dan letih. Sekadar mengistirahatkan mata yang jarang terkatup atau menikmati hidangan lezat yang kukirimkan padamu setiap sabtu, kupikir bukan ide buruk. 

Tidak mengapa kalau sesekali mencumbu kekasih gelap yang kausembunyikan dibalik tirai-tirai berdebu itu. Mungkin demikianlah istirahat terbaik yang dapat kauberikan pada tubuh lesumu. 

Tidak, Tuan. Tidak.

Tidak usah pedulikan aku. Di sini, aku sudah bosan dicumbu doa orang-orang yang membenciku. Begitu hebat rasanya! Suatu pengalaman bercinta yang mahadahsyat! Kalau saja aku dapat membagikan perasaan-perasaan abstrak itu denganmu, bukan tidak mungkin berahimu akan melesat jauh ke bilik-bilik nafsu. Dan tentu akan kulakukan tanpa ragu.

Mungkin, akan kukirim setelah tanggal dua puluh satu di hari sabtu. Hari kesukaanmu sebab harus berburu lacur. Masihkah kaujadikan singgasana rumah berbau tembakau itu? Tapi, sabtu sepertinya akan kacau. Baiknya kukirim kapan, ya? Pekan depan terdengar bagus. Apa? Kau bilang itu ide buruk? Ya Tuhan, jangan begitu. Kukirim sebagai hadiah ulang tahunmu saja, bagaimana? Kupastikan siapapun tak akan tahu. Ibumu. Ayahmu. Kakakmu. Adikmu. Pamanmu. Bibimu. Nenekmu. Kakekmu. Sepupumu. Keponakanmu. Lacur-lacurmu. 

Tapi, tolong disimpan dengan baik, dengan hati, kalau perlu sampai mati. Kado terakhirku di pipi kananmu saja tidak kaujaga, jadilah ia hilang tak bersisa. Padahal, aku sampai harus membuat pemulas bibir sendiri di malam sebelum kita melebur bersama dipan reyotmu yang setengah hancur. 

Membuat pemulas bibir itu tidaklah sulit. Lantaran, hanya menggunakan darah haid anak gadis yang sedang jatuh hati untuk pertama kali. Ada begitu banyak gadis seperti itu di sepenjuru bumi. Tapi, tidak pula mudah. Lantaran, harus mengambilnya diam-diam saat ibu bapaknya mengawasi. Saat itu, hampir saja aku digantung di atas bintang-bintang yang sakit hati. Iya, sakit hati. Memangnya bintang punya hati? Waduh. Tuan, tuan. Sifat suka meremehkanmu itu belum kauhilangkan? Memangnya bintang itu seperti kau yang tak punya hati? Jangan samakan bintang dengan dirimu yang nir empati. Bahaya kalau ia tahu dan tambah sakit hati. Bisa-bisa kau terkena sihir seluruh benda di langit. Bulan, nebula, meteor, asteroid, gugusan galaksi, bintang-bintang mati, asal bukan matahari.

Oh? 

Ya, ya ...

Maaf. Maafkan kelancanganku, Tuan. Surat ini agaknya melenceng dari tujuan. Jadi, kau baik-baik saja 'kan? Kuharap demikian. Sebab, kalau kau tak baik-baik saja, mana ada gadis-gadis yang mau mendekat? 

Mana ada gadis-gadis yang mau mencium pipi lelaki berkerut lebat? 

Mana ada gadis-gadis yang mau mencumbu lelaki sekarat? 

Mana bisa aku mengirimimu hidangan lezat?

Hidangan setiap sabtu dari gadis-gadis yang kaukira telah hilang mencampakmu dengan jahat.

Gadis-gadis manis.

Gadis-gadis cantik.

Gadis-gadis lacur yang desahannya dirindukan mentari.

Dan darah haidnya terasa begitu manis.

Sekarang hanyalah sekumpulan tahi di limbah orang-orang mati.





_______

Tual, 8 September 2024



Komentar

Postingan populer dari blog ini

tu'burni

Kupikir, Semua Telah Berakhir.

Aku.