Turut Berduka Cita!
dan di sinilah kita
menggaungkan 'turut berduka cita'
cita-cita pun turut berduka
cita
cita
negara
kita
alinea
ke-4
dan
--- pancasila
sila-sila pun tak luput dari duka
dikubur para gelojo atau dirudapaksa
par setan falsafah negara
di negeri penguasa
pancasila
hanyalah
ornamen
negara
belaka
darahnya
telah
mengering
dilupakan
bilamana kita bersuara
mensyairkan derita
menjeritkan amarah
menyanyikan tangisan
"maka matikanlah!"
pekik perut-perut gemuk mereka lantang
suara dimatikan
kalau tidak, tubuhnya saja sekalian
ah, bukankah kita ialah sebenar-benar tuan?
mereka-lah jongos semua kita!
tapi toh, kita-kita juga yang sering dirugikan
tapi toh, jongos-jongos itu; apa peduli mereka?
tapi tapi tapi
siapa kita?
kita ini siapa mereka?
Tuan--
ditendang, mati
dibiarkan hidup, getir
tapi tapi tapi
siapa mereka?
mereka ini siapa kita?
Jongos!
ditendang, kita ditembak
dibiarkan hidup, kita kian menderita
dan bapak ibu pahlawan kembali berduka
ibu pertiwi meraung murka
persatuan tuan nyonya patut dipertanyakan
di manakah perlawanan?
ah, bapak ibu pahlawan
siapa yang mau dilawan?
apa yang harus dilawan?
katanya persatuan
tidak seharusnya saling melawan
negara ini ialah negara kesatuan
lihatlah, jongos-jongos kita
telah bersatu dalam koalisi memilukan
gemuk nian pasukan setan
ah, setan?
bukankah mereka-mereka itu dulunya;
bagian utuh dari kita?
'kita' yang ditahtakan para kita;
dengan mahkota kuasa lagi harapan
lupakah mereka?
dan bilamana mantan 'kita' bersuka cita
berpesta bersama koalisi jongos biadab
bersulang gembira di atas singgasana mewah
di sinilah kita
di pondok kumuh
di gang sempit
di tengah banjir
memungut remah-remah keserakahan
membisikkan duka cita
ssht, tak boleh lantang-lantang!
toh, didengar pun tidak
sebab, dalam ruang kedap suara
nurani tiada bersisa
jangan dipaksa nyaring
dicekik, mati kau nanti
lantas, harus melawan dengan cara apa lagi?
sedangkan reformasi dilucuti
demokrasi telah mati!
____________
Tual, 20 Maret 2025
Elsa Wear

Komentar
Posting Komentar